IMO akan lebih efisien apabila dibuat database seperti biasa om, toh pada umumnya tidak ada upaya dari pemerintah buat ngubah data gen orang sesuka hati. Selain itu DNA bisa mengalami perubahan karena 'perkembangan' protein waktu tes DNA, bisa jadi nanti perlu diadakan perubahan data. Cuma prosesnya aja yang dipermudah, misalnya meniru sistem fintech, pake apps dan semua orang tinggal daftar, ga perlu ke kelurahan dsm.
Saya rasa dengan tes DNA dan perubahan DNA membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pihak pemerintah juga tidak akan mengambil langkah untuk menyalurkan dana pada program tersebut. Toh ini untuk kepentingan aset pribadi. Kita bisa memanfaatkan teknologi saat ini seperti biometric sidik jari dan face id. Tidak perlu jauh-jauh memikirkan tentang DNA.
Masalah kematian ahli waris dan pemberi waris, kalau emang keduanya mati bareng ya sudah selesai. Kecuali ahli warisnya ada banyak, dan ini tergantung keputusan pemberi waris. Kan itu dana dia, bukan milik negara. Kalau ahli warisnya punya ahli waris juga, ya berarti nasibnya ga dapet warisan dari ortunya. Tapi sebagai ortu yang baik, mestinya juga ga mengandalkan warisan dari ortu buat diwariskan ke anak. Kalau emang ngebet banget mau otomatis diwariskan, ya pake locked tx aja jauh-jauh hari, asumsikan 1 tahun ke depan mati.
Saya rasa, akan lebih bagus menyimpan data Private Key di sebuah Flashdisk. Dan Flashdisk itu hanya akan digunakan untuk menyimpan PK tersebut tidak untuk menyimpan data lain. Kamudian flash tersebut di simpan di brangkas, dan sertakan pula panduan lengkap untuk membuka aset dengan PK tersebut. Jadi jika misalkan se keluarga meninggal dunia, pasti ada sanak keluarga lain yang akan datang kerumah dan memeriksa seluruh isi rumah.