Nah ini sulit untuk nyambung ketika membicarakan geopolitik dengan agama. Ketika ane dulu menganalisis apa yang akan terjadi dengan Palestina:
I won't be surprised if there is no Gaza after this war. It's sad, but it's the reality.
Kalau diterjemahkan ya ane ga bakal kaget kalau ga ada lagi Gaza (ancur) dan/atau dikuasai pihak lain. Ketika ane bikin analisis seperti itu, "jubah agama" ane copot dulu dan ane pasang "jubah logika dan dinamika geopolitik" untuk berkomentar.
Sorry untuk tulisan yang kurang detail. Maksud saya adalah, relokasi Trump tidak akan berhasil dengan pertimbangan ideologi mayoritas Rakyat Palestina yang beragama Islam dan kentalnya nilai2 agama disana. Bagi rakyat Palestina tujuan nasional mereka yang utama adalah kemerdekaan, kedaulatan, persatuan dan kesejahteraan dari penjajahan Israel, hal ini yang diyakini dan menjadi pedoman rakyat Palestina.
Tetapi membahas permasalahan geopolitik dan geostrategi Israel dan Palestina tentu tidak bisa dipisahkan dengan ideologi agama, karena selain agama memang menjadi isu sentral masyarakat global dan terlebih lagi konflik bermula dari perselisihan sejarah, agama dan khususnya wilayah (merupakan kota suci yang di klaim oleh 3 agama). Ketidakstabilan kawasan timur tengah mengundang banyak aktor untuk terlibat didalamnya dan menambah kompleksitas masalahnya. Mulai dari Amerika Serikat (dengan kepentingan politik, militer dan ketahanan energi-nya) sebagai aktor dominan penentu diikuti oleh negara-negara Eropa, lalu ada Arab Saudi dan Iran yang berusaha memperluas pengaruhnya di Timur tengah, lalu Turki dan Mesir.
Yang terlihat sejak serangan Israel di 2023, bahwa posisi Israel semakin menguat karena dukungan Amerika Serikat dan Negara Barat ditambah lagi kemunculan tokoh-tokoh extrimis Israel yang agresif dan konfrontatif. Di sisi lain Posisi palestina semakin melemah, karena terpecahnya negara-negara muslim dan konflik domestik internal di dalam Palestina sendiri.
Jadi secara geopolitik dan geo strategi konflik di Palestina bisa berakhir jika :
1. Amerika mencabut dukungannya untuk Israel. tapi rasanya nearly impossible karena Trump menyetop bantuan luar negeri-nya kecuali untuk Israel dan Mesir. Selain itu kecenderungan China untuk mendekat dan menarik simpati negara2 Islam dengan menghilangkan garis demarkasi israael palestina dari peta yang berarti tidak ada israel di peta yang diterbitkan oleh China.
2. Negara-negara Islam bersatu, inipun sangat sulit karena masing-masing negara memiliki kepentingan nasional yang berbeda-beda. Arab Saudi dibawah tekanan Amerika terkait perdagangan minyak. Mesir meskipun ingin diakui lagi sebagai negara Islam (insiden penghianatan Mesir yang sudah terlanjur bergantung dengan bantuan Amerika Serikat. Janji Allah dalam Al Quran adalah benar meskipun Yahudi akan melakukan kerusakan kali kedua di bumi, Allah juga akan membantu rakyat palestina dan memberikan kemenangan dan menjadikan rakyat palestina kelompok yang besar. Jadi pada perang tak berkesudahan antara Palestina dan Israel, semoga keyakinan itu cukup menggerakkan semua negara-negara Islam untuk membantu palestina.